Bab 1
"Innalillahi wa Inna ilaihi raji'un...."
Serentak orang-orang di dekat jalan raya penghubung antar desa itu menyebut kalimat dalam Bahasa Arab tadi. Saat melihat mayat pengendara motor yang bisa dikatakan sudah tak layak lagi kondisinya. Beberapa orang menutup hidungnya karena tak tahan dengan aroma darah disini.
"Ya Allah, aku nggak tega lihatnya!"
Warga lainnya yang tak ikut berkerumun mengambil daun pisang di dekat jalan. Digunakan untuk menutupi tubuh yang sudah tak bernyawa itu lagi.
"Pak Sukardi sudah telepon polisi? Sinyal saya lagi parah disini! Muncul tenggelam terus dari tadi.”
"Sudah, Pak Darto! Sekalian sama ambulance juga."
"Berarti tinggal kita tunggu saja. Tolong ada yang jaga disekitar mayatnya. Mas Yudi, tolong bantu atur lalu lintasnya ya!"
"Ya, Pak Darto!"
Pak Darto mencoba mengarahkan salah satu remaja laki-laki untuk membantunya. Supaya jalanan ini tetap normal dan tidak terjadi kemacetan panjang. Memang para pengendara yang penasaran mencoba melihat. Sekalipun kondisi mayatnya sudah ditutupi. Sementara korban lainnya dibawa ke pinggir jalan.
"Mobil ambulance-nya kok belum datang ya?"
"Tunggu saja, Pak Darto! Paling sebentar lagi sampai."
Memang waktu terasa lama kalau sudah begini. Tetapi begitu terdengar suara sirine dari kejauhan. Para warga mulai sibuk untuk membantu korban kecelakaan. Termasuk Pak Darto dan Pak Sukardi.
"Pak, ini minta tolong motornya diamankan dulu di rumah warga! Nanti biar kami tangani setelah ini."
"Ya, Pak Polisi!"
Anak-anak muda yang sigap segera membawa motor para korban kecelakaan ke rumah salah satu warga dulu. Setidaknya supaya jalanan lancar. Tidak buat macet serta menganggu pengendara lainnya. Sebab polisi yang datang tak membawa mobil berjenis pickup untuk mengangkutnya. Warga pun juga tak ada armada lain untuk membawanya.
***
"Pak Kades, kasus kecelakaan ini sudah terjadi berulang kali di desa kita."
Pak Darto sebagai sekretaris membuka rapat dadakan ini dengan bahasan masalah kecelakaan. Pak Yanto selaku kepala desa bukannya tak tahu. Ia sudah tak tahu lagi harus berbuat apa. Hanya bisa diam disini sambil memandang peserta rapat lainnya.
Semuanya sudah diusahakan. Mulai dari rambu yang dibuat secara swadaya oleh warga. Hingga penerangan jalan dengan dana kas desa. Namun tetap saja itu tak mencegah kecelakaan yang terjadi.
"Padahal dulu waktu jalannya masih tanah ya aman saja!"
"Iya, kalau begini terus nanti nama desa kita jadi jelek."
Para warga sudah khawatir. Sebab dengan kecelakaan yang terus terjadi. Desa Langgar Jati malah dikenal dengan keangkeran jalannya.
"Kalau begini terus, nanti tidak ada orang kota yang mau kemari."
"Iya, Pak Kades! Hasil kopi kita bergantung sama orang-orang kota."
Sementara dengan adanya kecelakaan ini saja, sudah membuat orang-orang dari kota malas bertransaksi kemari. Kericuhan tak bisa lagi dicegah. Mereka ingin Pak Kades tegas dengan adanya ini. Tetapi apa yang bisa diperbuat olehnya?
"Jalan penghubung menuju ke kota hanya bisa melalui jalan raya itu saja."
"Ada jalan lainnya, Pak Susyanto!"
"Iya, tapi itu mutarnya terlalu jauh, Pak Hadi!”
"Maaf saya mau kasih usul!"
Salah satu peserta rapat mengangkat tangannya. Dia berkata kalau Pak Yanto selalu Kades ada baiknya maju ke Dinas Pekerjaan Umum. Sebab jalan raya ini bukan dibuat oleh para warga dengan dana kas desa. Melainkan masuk dalam proyek dari pemerintah melalui dinas tersebut.
"Apa mereka mau terima keluhan kita?"
Banyak yang bertanya-tanya tentang ini. Selain malas berurusan dengan pihak dinas terkait. Mereka cukup trauma bila nanti diminta uang untuk apa saja. Pak Yanto yang sedari tadi diam akhirnya bicara juga.
"Jalan itu memang ditangani oleh Dinas Pekerjaan Umum. Tapi ya itu juga yang saya ragukan. Apa mereka mau menerima keluhan semacam ini?"
"Setidaknya kita sudah lapor sama mereka, Pak Kades. Bukan diam saja dan membiarkan korban terus berjatuhan disana."
Rapat pun ditutup dengan keputusan menemui pihak Dinas Pekerjaan Umum. Memang perjalanannya cukup jauh dan memakan waktu untuk kesana. Tetapi hanya ini jalan satu-satunya untuk bisa mengurangi kecelakaan yang ada.
Setidaknya ini sudah usaha yang terbaik. Sebab warga tak mungkin bisa mengecek kondisi jalan yang ada. Berpikir kalau hal semacam ini butuh alat atau tenaga ahli khusus. Sebab sekilas bila dilihat memang normal. Tapi bisa saja ada sesuatu yang membuat para pengendara mengalami kecelakaan.
***
Waktunya Pak Yanto selaku Kades berangkat. Sayangnya, Pak Darto sebagai sekretaris tidak bisa mendampingi. Tiba-tiba saja demam kata istrinya setelah semalam sempat melek agak lama. Akhirnya tugas itu dialihkan ke yang lainnya.
"Pak, kita sebagai anggota Karang Taruna bisa temani Pak Kades ke kota."
"Tahu kan kalian jalan menuju ke kantor Dinas Pekerjaan Umum?"
"Ya tahu, Pak Kades! Kita naik mobilnya Pak Kades aja kan?"
"Mobil inventaris desa itu namanya, Yoyok!"
"Ya anggap aja mobilnya Pak Kades. Sama aja kan, Bowo!"
"Bedaaaa!"
"Eh, sudah deh! Nggak selesai kalau ribut terus. Dah, siapa yang mau nyetir?"
"Itu si Onta aja, Sin!"
"Kalau panggil nama yang bagus, Bowo."
"Eeh, iya Pak Kades. Maksud saya si Firman itu."
Wajah Firman memang seperti orang Arab. Dia selalu diledek oleh remaja Karang Taruna lainnya dengan sebutan "Onta". Tapi orangnya biasa saja dan tak merasa bermasalah dengan ledekan itu.
"Firman, kamu bisa nyetir mobil?"
"Bisa, Pak Kades!"
Firman ternyata sudah biasa membawa mobil. Apalagi mobil pick up. Sesekali remaja ini bantu jadi supir. Terutama untuk mengangkut bahan bangunan para pembeli di toko bangunan milik bapaknya.
"Eh, tapi bawa mobilnya yang bener ya! Kita bukan kumpulan sak semen sama pasir. Ada Pak Kades juga tuh!"
"Aduh, geli tau pas Sinta bilang kita ini bukan kumpulan sak semen sama pasir."
Mereka semua akhirnya berangkat. Melalui jalan yang sama. Terkadang Sinta heran dengan jalanan disini. Kenapa pengendara yang bukan berasal dari desa mereka bisa mengalami kecelakaan saat melewatinya. Sementara yang asli sini justru aman saja melalui jalan raya ini.
"Sin, napa sih kayaknya ngelamun mulu?"
"Ya kadang heran aja sih, Yok! Kalau kita yang lewat sini kok aman aja ya?"
"Mustinya kamu tuh bersyukur, Sinta! Malah pingin kecelakaan ini cewek."
"Hus, jangan kek gitu lah! Ada Pak Kades disini. Jaga omongan dong!"
Bowo langsung menutup mulutnya usai diperingatkan oleh Yoyok. Dia baru teringat kalau Pak Kades ada disini. Biasanya mereka pergi hanya dengan sesama anak-anak Karang Taruna saja. Memang Sinta perempuan sendiri disini. Tapi dia terhitung cewek tangguh sekalipun disandingkan dengan anggota Karang Taruna yang laki-laki.
"Eh, mampir dulu ntar ke pom bensin ya!"
"Napa sih, Sin? Mau ngapel sama masnya yang jadi petugas isi bensin ya!"
"Idiih, kebelet pipis tau! Sembarangan aja sih kalau ngomong si Bowo ini."
Ternyata sudah sedari tadi Sinta menahan pipis. Pantas saja dari wajahnya nampak cemas. Ketakutannya cuma satu, kalau akhirnya dia kencing di celana. Jelas buat dia malu seumur hidup kalau itu ketahuan sama anak-anak Karang Taruna lainnya.
***